Mendulang Rezeki dari Pesta Pernikahan

Mendulang Rezeki dari Pesta Pernikahan

Mendulang Rezeki dari Pesta Pernikahan

Antonius Wicaksono sudah menjadwalkan menikah pada pertengahan tahun ini. Persiapan pesta pernikahan tentu saja jelimet, mulai menentukan menu, jumlah makanan, sampai seragam untuk keluarga. Yang menambah berat masalah, ia dan calon istrinya sama-sama bekerja sehingga tidak bisa membagi waktu guna mengurusi rencana pesta itu.

Pemecahan pun diambil Wicaksono dan pasangannya. Mereka menggunakan jasa wedding organizer. “Kami pakai wedding organizer, tinggal tahu beres,” kata Wicaksono. Dengan wedding organizer, tugas calon pengantin bisa dibilang tinggal membuat undangan dan mencari cendera mata.

Orang seperti Wicaksono inilah yang menjadi incaran Dian Indriani, yang sudah tiga tahun mengelola wedding organizer bernama Diand. “Bisnis wedding organizer cukup menjanjikan karena banyak yang tidak mau keluarga terlibat dalam merencanakan dan mengatur pernikahan,” tuturnya. “Kebanyakan keluarga sudah tidak ada waktu untuk mengurus karena bekerja.

Meski usahanya baru didirikan pada 2010, ia sudah terjun ke bidang tersebut sejak 2005. Saat itu dia bergabung dengan wedding organizer milik artis Rina Gunawan. “Boleh jadi lantaran enjoy, saya betah berkarier selama enam tahun di bidang tersebut,” ujarnya.

Karena sudah kadung menyukai bisnis itu, Dian berinisiatif membuka wedding organizer sendiri selepas dari usaha milik Rina Gunawan. Selain karena kecintaan terhadap profesi, saya menilai bisnis itu cukup prospektif.

Kini, dalam sebulan, Diand mampu mendapatkan minimal dua klien. Biaya yang dikenakan kepada klien berkisar Rp 12-18,5 juta. “Tapi, kalau bulan puasa agak lain ceritanya, klien sepi,” ujar Dian.

Menurut Dian, wedding organizer tak hanya mengurus segala hal menyangkut pernikahan, tapi bisa menjadi teman calon pengantin. “Saya ikut bahagia saat acara yang ditangani sukses, dan sedih ketika segala jerih payah masih dinilai kurang sempurna. Tapi berbagai hal itu saya nikmati sebagai bumbu perjuangan,” katanya.

Meskipun sudah begitu banyak pesaing dalam bisnis wedding organizer, Dian tidak terlalu khawatir. Dalam bisnis ini, intinya adalah menjaga nama baik. Jika klien puas, mereka akan merekomendasikannya kepada kerabat dan teman yang akan menikah.

“Penting untuk me-maintenance klien sebaik mungkin dan kekeluargaan, serta menyajikan jasa dengan sebaik-baiknya,” ucapnya.

Wedding organizer yang seumuran dengan Diand, Eight Two Eight (828), awalnya juga mirip. Pemiliknya, Dewi Lestari, semula bekerja di perusahaan wedding organizer lain. “Saya sebelumnya bekerja di Sanjaya Wedding Organizer di Semarang selama empat tahun. Setelah itu, saya bersama teman mencoba buka sendiri,” katanya.

Dalam sebulan, 828 menerima setidaknya satu klien. Biaya yang dikenakan, kata Dewi, bergantung pada jumlah tamu. “Kalau 1.000 tamu, saya kerahkan 8-10 kru, biayanya sekitar Rp 27,5 juta. Kalau 500 tamu, membutuhkan enam kru, biasanya Rp 17,5 juta,” ujarnya.

Bagi Dewi, bisnis wedding organizer sangat menarik karena banyak tantangannya. “Kita harus bisa menghadapi orang yang berbeda-beda. Biasanya, beda adat, beda pula karakter calon pengantin dan keluarganya,” katanya.

Seperti halnya Dian, Dewi menilai kebahagiaan dalam menjalankan usaha wedding organizer adalah ketika klien dan keluarganya merasa puas. Namun ada pula momen yang terkadang tidak mengenakkan hati.

“Ada calon pengantin yang sudah hampir deal, tapi orang tua tidak setuju. Biasanya keluarga yang masih totok ingin mengurus sendiri semua urusan pernikahan,” ucap Dewi.

Menurut Dewi, bisnis wedding organizer sangat menjanjikan. “Tiap tahun pasti ada orang yang menikah kan? Dan dengan rutinitasnya, orang perkotaan sangat butuh bantuan untuk memperlancar pernikahan. Buktinya, wedding organizer sekarang begitu menjamur,” dia menjelaskan.

Meski usianya baru beberapa tahun, wedding organizer yang masih baru itu tidak perlu khawatir sulit mencari pelanggan. Wicaksono, misalnya, memilih wedding organizer yang masih baru. Sebab, jika menggunakan yang sudah terkenal, fee-nya lebih mahal. “Bisa puluhan juta kalau mau paket lengkap,” dia mengeluh.

Berdasarkan pembicaraan dengan kawan dan kerabat, Wicaksono pun direkomendasikan menggunakan jasa wedding organizer yang usianya maksimal baru tiga tahun. “Katanya, kalau masih di bawah tiga tahun, mereka istilahnya masih cari nama, cari portofolio. Lagi pula, walau pengalamannya masih relatif minim, banyak juga yang bagus, kok,” ujar Wicaksono.

Hidayat Setiaji

Sumber : www.hot.detik.com/read/2013/04/05/050009/2212019/1449/3/mendulang-rezeki-dari-pesta-pernikahan

Author Info

Admin

No Comments

Post a Comment